Jumat, 02 Mei 2014

KITA ADALAH SEDULUR




Kertapati/RSA
rudy_abd@yahoo.com

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh. Terimakasih Kangmas Rektor atas dimuatnya tulisan ini. Dengan mengucap Bismillahirrohmannirrohim di kesempatan ini saya hanya ingin saling mengingatkan pentingnya rasa perseduluran/persaudaraan. Semoga bermanfaat fii dini wa dunya wal akhiroh. (amiien)

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, Allahumah shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmaiin, “Innamalmu’minuna ikhwatun faashlihu bayna akhowaikum wattaqullooha la’allakum turhamuun” (Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al Hujurat (49) ayat 10 ) Sedulur-sedulur, sahabat-sahabat sekalian Innamal mu’minuuna ikhwah, orang yang beriman itu adalah bersaudara bukan musuh jika terjadi sedikit perbedaan seperti perbedaan pendapat, pandangan dan pola pikir hal itu tidak harus menjadi musuh, karena musuh kita adalah kaum dzolimin.

“Yaaayyuhalladzina aamanu laayasskhor qoumun minqaumin aasaa ayyakuunuu khayrom minhum walaanisaaum minnisaain aasaa ayyakunna khoyrom minhunna walaatalmizuu anfusakum walaatanabbazuu billalqob bi’sal ismullfusuqu ba’dall iiman wamallam yatub faaulaaika humudloolimuun”(Hai orang- orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok- olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim) (QS. Al Hujurat(49) ayat 11)

ayat ini membahas mengenai larangan mengejek satu kaum terhadap kaum yang lain yang sama-sama punya iman walaupun misalnya berbeda pandangan akan tetapi sama-sama beriman kepada Alloh SWT, tidak boleh saling mengejek. Begitu juga jika sama-sama kelompok majelis ta’lim, sesama sedulur saling mengejek ? Naudzubillah. Lalu kenapa disini disorot wanita harus mampu mengendalikan ucapannya. Hal ini kemungkinan disebabkan pekerjaannya kurang banyak sehingga waktu yang ada digunakan untuk mengobrol. Jadi jelas sekali Al Quran melarang wanita atau akhwat jangan suka mengejek yang lain karena bisa jadi wanita yang kita ejek itu lebih mulia dihadapan Alloh daripada yang mengejek, ini harus hati-hati karena Alloh-lah Yang Melarang Mengolok-olok, selain itu tidak boleh kita menghina diri sendiri, karena orang yang mengejek diri sendiri dapat dikatakan kufur nikmat, jangan suka membanding-
bandingkan dengan orang lain, karena semuanya Alloh-lah Yang Menciptakan.

tidak baik mengolok-olok atau dengan panggilan yang buruk misal kafir, bodoh, munafik, monyet atau panggilan yang buruk yang berhubungan dengan Iman atau menghina orang tua orang lain karena dengan begitu berarti sama saja dengan menghina orang tua kita, tetapi panggilan dengan gelaran-gelaran yang baik atau yang disukainya.

“Yaayuhalladzina aamanujtanibuu katsiromminadldlonni inna ba’dodzonni itsmuwwalaa tajassasu walaayagtab ba’dlukum ba’dzoon ayyuhibbu ahadukum ayya’ kula lahma akhihi maytan fakarihtumuuhu wattaqulloha innalloohattawwaburrohim”

(Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang”) (QS. Al Hujurat(49) ayat 12 )

Prasangka itu ada dua macam ; Husnudzon atau Suudzon , ada baik sangka dan ada buruk sangka , ketahuilah yang sebagian prasangka itu adalah dosa.yang tidak boleh itu adalah Suudzon, misalnya kita mengatakan kepada rekan kita tentang rekan kita yang lain “hei hati-hati si fulan suka buruk sangka kepada kita ? sebenarnya itu sudah termasuk berburuk sangka kepada orang lain. Oleh karena itu kita harus hati-hati dan waspada.

Tapi Husnudzon pun jatuhnya hanya kepada orang yang beriman, misalkan di toko ada orang yang tidak kita kenal membuka laci kita, lalu kita berbaik sangka“ oh mungkin dia akan menghitungkan uang saya…” , itu tentu baik sangka yang konyol karena pasti orang itu adalah pencuri. kepada orang yang beriman jangan sering melakukan “walaa tajassasu” suka mengorek-ngorek aib , suka mencari-cari kesalahan kecuali untuk tindakan keadilan pencegahan kemunkaran, sedulur dengan menceritakan keburukan orang lain berarti kita telah ghibah, ghibah itu batasannya kalau ucapan yang diceritakan membuat orang sakit hati andaikata mendengarnya.

“Yaayyuhannasu innaa kholaqnakum mindzakarin auuntsa wajaalnaakum syu’ubaw waqobaaila lita’arofu inna akromakum ‘inndalloohi attqookum innallooha’ aliimun khobir”

(Hai manusia , sesungguhnya Kami Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Menjadikan kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal )
(QS. Al Hujurat(49) ayat 13)

Manusia diciptakan berbagai suku, berbagai bangsa semua itu ditujukan agar saling kenal-mengenal, kita jangan membenci orang Amerika karena orang Amerika tidak pesan untuk dilahirkan di sana, di Amerika yang sholeh ada yang bathil pun ada, persis sekali di kita yang sholehnya hanya sedikit, darimana kita tahu di Indonesia yang sholehnya sedikit ?….. karena kalau di negeri kita orang yang sholehnya banyak maka tentu tidak akan negara kita jadi bangkrut dan banyak koruptornya seperti sekarang ini.

Dalam kehidupan ini tidak boleh saling menghina karena perbedaan Suku, ada yang diciptakan di Jawa, Sumatera, dll. jangan menghina kesukuannya ! yang buruk itu adalah pribadi dari orang tsb, ketidakadilannnya dalam menyelesaikan suatu masalah. Pernikahan tidak boleh terhalang oleh perbedaan suku, karena semuanya sama-sama diciptakan Allah SWT. Ketika zaman Rasulullah Muhammad SAW, Bilal yang hitam legam tetap mulia disisisi Allah, lalu Salman Al Farisi dari Persia tetap saja mulia disisi Allah, sebenarnya perbedaan lintas Negara, suku, bangsa merupakan nilai Ukhuwah inna
akromakum ‘inndalloohi attqookum yang mulia bukan warna, kulit, jabatan, gelar, pangkat, kesaktian akan tetapi yang shleh dan taat pada Alloh SWT itulah yang mulia. Wallahua’lam.

Semoga tulisan sederhana ini yang diambil dari beberapa referensi dapat menjadi bahan renungan sesaat serta melengkapi perpustakaan Blog KWA yang kita cintai ini.

“Salam Perseduluran”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar